Habituasi Budaya Ilmiah melalui Inkubasi Proposal Penelitian
Ahmad Izzuddin
Menulis terdengar sangat familiar mengingat dari kecil kita diajari membaca, menulis dan berhitung (calistung). Namun ketika menulis dihubungkan dengan karya ilmiah, artikel, jurnal penelitian, riset berbasis pengabdian kepada masyarakat, proposal penelitian dan sejenisnya, menulis menjadi momok bagi sebagian orang termasuk diri saya sendiri mengingat penulisan karya ilmiah membutuhkan sistematika, metodologi, berbasis data sampai pada lahirnya novelty.
Bagi saya membaca dan berbicara itu terasa lebih mudah daripada menulis, membaca membutuhkan sedikit energy untuk memikirkan menghayati apalagi kalau dilakukan sambil ngopi, berbicara cukup mengamalkan skill public speaking yang sudah sangat sering dipraktikkan. Namun ketika datang pada tugas menulis bebannya terasa beda, beratnya tidak ketulungan, bagaimana tidak - ketika bahan dan data awal sudah lengkap sekalipun, menerjemahkan apa yang ada dalam data lalu memadukan dengan ide dari ruang pikiran selanjutnya merangkai ke dalam tulisan sangat menguras energy, terkadang belum sampai tertuang dalam tulisan energinya sudah habis dan akhirnya mudah ditebak 'tulisan tidak dilanjutkan'.
Tantangan dan keterbatasan yang menjadi hijab itu sedikit demi sedikit mulai terbuka setelah mengikuti kegiatan Inkubasi Proposal Penelitian yang diselenggarakan selama 3 hari di Best Western Papilio Hotel Surabaya tanggal 18-20 Agustus 2022 oleh LP2M UIN Satu Tulungagung. Kejelian Prof Naim mendatangkan narasumber-narasumber kelas internasional sekaligus reviewer Litabdimas seperti Prof Budiyono, Ibu Dr. Imas sampai Prof Wahyuddin dari UIN Alauddin Makassar benar benar membuka potensi-potensi peserta yang selama ini terpendam naik turun di alam bawah sadar menjadi naik keatas permukaan sadar.
Jika akhir-akhir ini kita disuguhi banyaknya berita tentang pesulap merah yang berhasil membongkar trik-trik konten Gus Samsuddin, dalam konteks yang berbeda murobbi ruhina Prof Naim juga berhasil membongkar trik-trik mudah menentukan judul penelitian, membuat proposal penelitian yang baik dan benar sampai strategi menyusun laporan hasil penelitian melalui narasumber yang dihadirkannya.
Acara yang diadakan selama tiga hari ini telah membuka pintu hidayah kepada banyak orang, khususnya pribadi saya jika tugas dosen tidak cukup hanya mengajar di dalam kelas, dosen harus terus meneliti dan menulis, meneliti dan menulis, meneliti dan menulis, mencari novelty lalu menyumbangkan tulisan dalam bentuk artikel yang dijurnalkan agar menjadi jariyah ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun generasi mendatang.
Sebagai tamu undangan yang mendapat kehormatan untuk ikut program inkubasi proposal penelitian LP2M UIN Satu Tulungagung, kami tidak bisa membalas apa-apa selain doa yang terucap Jazzakumullah Ahsanal Jazza, Jazzakumullah Khairan Katsiro.

Catatan yang keren Mas
BalasHapusTrimakasih Prof Naim🙏
Hapus