Kesempatan Emas Kuliah S2 (Lagi)

 

Ahmad Izzuddin

Untuk memulai tulisan ini, saya tertarik meminjam sebuah ungkapan yang sangat heroik dari Abraham Lincoln “Saya memang seorang yang melangkah dengan lambat, tetapi saya tidak pernah berjalan mundur walaupun satu langkah”. Abraham Lincoln mengungkapkan kalimat itu dengan penuh penjiwaan karena sesuai dengan perjalanan hidup yang pernah dialaminya. Meskipun dalam konteks yang berbeda, namun kalimat tersebut juga sesuai dengan apa yang saya rasakan dan saya alami. Bagaimana tidak, sebuah keinginan yang saya pendam selama kurang lebih 15 tahun, sekarang mulai datang kesempatan emas itu yaitu kesempatan untuk kuliah. Bukan hanya kuliah biasa, namun kuliah yang menurut saya sangat luar biasa. Karena ini merupakan kuliah S2 yang ke 2 setelah yang pertama mengambil jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI), lalu mengulang S2 dengan mengambil jurusan yang berbeda yaitu Aqidah dan Filsafat Islam (AFI). "Mencari ilmu, kalian tidak boleh malu meskipun harus mengulang seratus kali pada materi yang sama" itulah kalimat yang pernah disampaikan guru sewaktu mengajar di kelas.

Pada tahun 2005, saat saya masih kuliah S1 semester IV kebetulan memiliki  beberapa teman yang kuliah Strata 1 di dua perguruan tinggi. Diam-diam saya menaruh kekaguman waktu itu, lebih tepatnya mengagumi semangat menuntut ilmunya. Hingga terlintas dalam pikiranku “seandainya saya bisa melakukan hal yang sama pasti sangat membahagiakan”. Namun pikiran itu segera saya tepis karena saya sadar diri, jangankan untuk kuliah di dua perguruan tinggi, kuliah di satu perguruan tinggi dan bisa membayar uang kuliah tepat waktu saja sudah sangat beruntung. Seiring berjalannya waktu, keinginan itu semakin memudar dan lama kelamaan terlupakan. Selanjutnya semua berjalan normal, normalnya manusia yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, namun memiliki keterbatasan biaya.

Seperti pengalaman sebelumnya, selepas Madrasah Aliyah saya harus terminal 1 tahun, bekerja jadi kuli bangunan untuk menabung agar bisa kuliah. Setelah menyelesaikan S1 Pendidikan Agama Islam  di STIT Al-Muslihuun Tlogo Kanigoro Blitar tahun 2007, saya harus terminal terlebih dahulu. Karena saat itu saya sudah mulai berkeluarga, jadi kami mulai konsentrasi bekerja untuk membuat rumah dan berharap bisa melanjutkan kuliah lagi. Akhirnya Allah SWT mengabulkan doa kami dan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S2 kesampaian, saya mengambil Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di IAIN Tulungagung.

Tepat ketika selesai kuliah S2 pada tahun 2015, Alhamdulillah saya diterima mengabdi di Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin 2 Blitar dan dua tahun sesudahnya tepatnya pada tahun 2017 saya juga diterima sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Dalam perjalanannya ketika berinteraksi dengan banyak orang salah satunya Ustadz Kholid Thohiri, dari beliau saya mendapat cerita petualangan yang luar dalam mencari ilmu yaitu kuliah S1 dua kali dan juga kuliah S2 dua kali, pengalaman itu akhirnya membangunkan kembali hayalan-hayalan lamaku yang seakan-akan sulit terwujud. Ahirnya, dengan keinginan yang kuat dan sulit untuk dibendung saya memutuskan tahun ini untuk mendaftar lagi kuliah S2 di kampus tercinta IAIN Tulungagung mengambil jurusan yang berbeda dari sebelumnya yaitu Aqidah dan Filsafat Islam (AFI).

Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrohim pada tanggal 12 Agustus 2020 pukul 12:27 saya meng upload semua persyaratan pendaftaran dan pada tanggal 2 September 2020 mengikuti rangkaian ujian masuk. Diawali pada pukul 7.30 sampai pukul 09.00 dilaksanakan ujian tulis meliputi Tes Potensi Akademik (TPA) 50 soal, Bahasa Inggris 25 soal dan Bahasa Arab 25 soal. Dengan bekal belajar yang rajin proses ujian tulis bisa saya lalui dengan lancar meskipun tidak mudah. Setelah ujian tulis selesai saya harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian lisan yang meliputi keislaman, proposal tesis dan kepribadian. Saat itulah ketegangan dalam diri saya mulai muncul, bahkan bisa dikatakan ketegangan yang membuncah sampai saya harus mengulang-ulang tarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi ketegangan. Jika dalam sebuah pertandingan ada sebuah statemen “merebut itu lebih mudah daripada mempertahankan”, kalimat itu representasi dari yang saya rasakan dan saya alami saat ini. Dulu saat selesai kuliah S1 melanjutkan S2 juga tegang namun tergolong biasa, namun sekarang jauh lebih tegang karena bebannya adalah saya harus tampil lebih baik daripada yang dulu apalagi posisi saya yang sudah selesai S2 dan harus berkompetisi dengan yang baru selesai S1 jika nilainya kalah betapa memalukannya, hehehe.

Saat mulai masuk di ruang ujian lisan via aplikasi zoom. Saya diuji oleh tiga penguji yang salah satunya sudah sangat familiar karena beliau selain dosen juga menjadi pembimbing tesis saya pada tahun 2015 yaitu Ustadz Dr. H. Teguh, M.Ag, sedangkan dua penguji lainnya adalah Dekan FUAD Ustadz Dr. Ahmad Rizqon Khamami, Lc, M.Ag dan Ustadz Dr. Phil. Syaifudin Zuhri, M.A. Saat memulai ujian lisan kalimat pertama yang disampaikan Ustadz Teguh adalah “Saya sangat familiar dengan wajah sampean, apakah pernah saya ajar di kelas?” dengan sedikit grogi saya menjawab “Iya Ustadz, saya mahasiswa jenengan dan pembimbing tesis saya juga jenengan”, singkat cerita selanjutnya beliau menguji saya tentang wawasan keislaman khususnya di bidang ilmu tasawuf.

Penguji kedua Ustadz Syaifudin menanyakan mengapa saya mengambil kuliah S2 lagi dan tidak langsung S3, dengan tenang saya menjawab “Saya merasa belum pantas untuk S3 dan ingin mematangkan keilmuan dengan kuliah S2 lagi”, lalu beliau berpesan agar setelah ini jangan S2 lagi tapi harus lanjut S3, Ustadz Syaifuddin di akhir kalimatnya melemparkan pertanyaan yang menantang “Katakan pada kami alasan apa yang membuat kami bisa menerima sampean di jurusan Aqidah dan Filsafat Islam?”, “saya merasa pantas diterima di AFI karena saya akan menggunakan ilmu yang saya dapat untuk memperbaiki diri sendiri dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seandainya ilmu saya bermanfaat untuk orang lain maka saya juga akan menggunakannya sebagai alat untuk mengajak orang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT” jawabku.

Tiba saat terakhir pengujinya beliau Ustadz Rizqon Khamami menanyakan “S1 kamu dimana?” “di STIT Al-Muslihuun Ustadz”, “lalu S2 kamu dimana? Jurusan apa?” “di IAIN Tulungagung jurusan MPI” jawabku, ustadz Rizqon menambah pertanyaan “dulu S2 di IAIN Tulungagung dan sekarang kuliah S2 di IAIN Tulungagung lagi berarti kamu sangat mencintai IAIN Tulungagung?” dengan tegas saya menjawab “Nggih Ustadz saya sangat mencintai IAIN Tulungagung, rencana saya jika Allah mengizinkan S3 saya kelak juga di IAIN Tulungagung”. “baiklah karena sampean sangat mencintai IAIN Tulungagung itu akan kami jadikan pertimbangan untuk menerima sampean, tapi pesen saya sama dengan Pak Syaifudin besok jangan S2 lagi tapi harus S3” timpal Ustadz Rizqon, “Siap Ustadz” jawabku. Lalu ditutuplah ujian lisan dengan bacaan Alhamdulillahirobbil’alamin. 

Setelah mengikuti rangkaian ujian tulis dan lisan ketegangan ini langsung mereda, otot-otot yang awalnya kaku lemas terurai dan selanjutnya tinggal menunggu pengumuman hasil ujian tulis dan lisan. Apabila dalam pengumuman tanggal 7 September 2020 kelak saya diterima maka saya akan merasa bersyukur karena saya merasa seperti memulai hidup baru, karena jadi mahasiswa itu rasanya keren sekali. Mengingat hidup hanya sekali, saya akan selalu berusaha  menikmati setiap jengkalnya dengan selalu mengharap ridla-Nya. Aamiin

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Istri Berharap Suami Menikah Lagi...

Buku Berkata “Menunggu Itu Sangat Menyenangkan”