Berkurban Adalah Mengikhlaskan Yang Dicintai

Ahmad Izzuddin

Gambar : From Google

Saat kita lahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang bulat tidak membawa apa-apa, tidak memiliki ap-apa, bahkan kita tidak memiliki daya dan upaya sama sekali. Atas kemurahan dan kasih sayang Allah kita diberi rizki melalui wasilah kedua orang tua berupa asi, semakin tumbuh kita diberi makan minum, setelah besar kita diberi pendidikan  hingga kita dewasa sampai mandiri.

Dari tidak bisa apa-apa kita menjadi kuat, dari tidak punya apa-apa kita kaya harta benda, meskipun definisi kaya itu relative. Dalam harta benda itu ada sebuah ikatan yang kita miliki yaitu rasa cinta, dimana rasa cinta itu merupakan sikap seseorang untuk ingin selalu bersama dan tidak ingin melepaskannya. Kebanyakan orang akan berat hati untuk melepaskan yang dicintai karena cinta adalah rasa memiliki yang begitu kuat, kita merasa jika harta benda yang kita miliki merupakan hasil usaha kita, jika bukan karena jerih payah maka kita tidak memiliki harta benda tersebut.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar, jika orang memiliki harta melimpah semata-mata karena usahanya maka sudah bisa dipastikan mereka yang kerja dari pagi sampai malam bahkan ada yang kerja dari pagi sampai pagi lagi akan lebih kaya daripada mereka yang kerjanya hanya paruh waktu. Namun kenyataannya tidak semua orang yang bekerja dalam waktu yang lebih banyak memiliki kekayaan yang lebih dibandingkan dengan mereka yang bekerjanya lebih singkat. Justru terkadang yang terjadi malah sebaliknya, mereka yang bekerja secara efektif hasilnya lebih melimpah daripada mereka yang bekerja dengan waktu yang panjang namun hanya mengandalkan otot. Meskipun begitu, terlepas dari apapun pekerjaannya dan berapapun penghasilannya, saat kita bisa memenuhi kebutuhan dasar berupa makan, minum, tempat tinggal, pendidikan dan tetap kuat (tidak kelaparan) melaksanakan ibadah maka kita masuk kategori orang kaya. Disitulah menunjukkan bahwa semua yang kita miliki semata-mata karena luasnya rohmat Allah SWT.

Dari definisi kaya itulah kita diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah sunnah di hari tasyrik berupa qurban, berkurban adalah menyembelih hewan tertentu di hari tasyrik atau hari dimana kita diharamkan untuk berpuasa. Makna haram berpuasa berarti Allah menisbatkan yaumul tasyrik menjadi hari untuk makan dan minum, hari untuk bergembira. Bergembira bukan hanya saat kita menerima daging qurban namun kita juga diperintahkan untuk bergembira dengan memberikan daging qurban.

Dalam Qur'an Surat Al-Ankabut : 2-3 Allah berfirman : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta"

Ayat tersebut memberikan sebuah peringatan kepada kita bahwa pernyataan iman yang sesungguhnya adalah datang setelah adanya ujian dari Allah SWT, apakah iman kita sungguh-sungguh ataukah hanya dusta. Salah satu ciri iman yang sungguh-sungguh adalah kerelaan kita, keikhlasan kita untuk melepaskan sebagian dari harta yang kita cintai untuk membeli hewan qurban dan menyembelihnya di yaumul tasyrik untuk dibagikan kepada mereka yang berhak menerima, jika kita merasa keberatan untuk memberi dan hanya mengharapkan untuk menerima maka kita tergolong orang-orang yang dusta akan keimanan kita, karena pada hakikatnya berkurban adalah mengikhlaskan yang dicintai. Wallahu a'lam

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Istri Berharap Suami Menikah Lagi...

Buku Berkata “Menunggu Itu Sangat Menyenangkan”

Kesempatan Emas Kuliah S2 (Lagi)