Pembentukan Karakter Melalui Budaya Literasi

Kebanyakan orang beranggapan bahwasannya budaya literasi yang di dalamnya mencakup kebiasaan membaca dan menulis merupakan budayanya orang akademik ‘saja’, budaya pelajar, mahasiswa, guru maupun dosen. Sedangkan mereka yang tidak sedang menempuh jalur pendidikan maupun yang bukan bagian dari pelaku pendidikan menganggap tidak memiliki kewajiban untuk rajin membaca dan menulis. Padahal ayat Al-Qur’an pertama yang turun merupakan perintah membaca (Iqra’) berlaku umum dan jamak ditujukan kepada semua umat manusia.
Kenyataannya tidak sedikit orang yang berubah pola pikir serta perilakunya setelah akrab dengan kebiasaan membaca dan menulis, mulai perubahan dari tidak tahu menjadi tahu atau dari bodoh menjadi cerdas sampai pada implikasi yang lebih heroik yaitu perubahan dari orang yang awalnya akrab dengan dunia hitam dan berkali-kali keluar masuk penjara berubah menjadi orang hebat dan diakhir hayatnya dikenang sebagai orang Afrika-Amerika terhebat dan paling berpengaruh dalam sejarah. Tengok saja Malcolm X, siapa sangka seorang remaja dari keluarga miskin yang hidupnya liar, terjerumus dalam dunia antar geng, narkotika, minuman keras dan sering keluar masuk penjara, sejak sering membaca menjadi sosok yang cerdas, pembawa perubahan dan pejuang hak asasi manusia paling disegani di Amerika. Semua berawal saat dia mulai menemukan hobi membaca dalam penjara, dalam keterangannya Malcolm X berujar :
“Karena waktu yang cukup banyak di penjara, akhirnya saya mendapatkan ide dari apa yang bisa saya lakukan, yakni belajar dari kamus. Saya ambil pena dan kertas dan saya menyalinnya, setelah menulis lalu saya membaca ulang apa yang telah saya salin. Makin lama, kemampuan membaca dan menyalin saya semakin cepat, saya mulai sadar betapa bermanfaatnya menyalin (menulis) dan membaca itu. Lalu saya mulai banyak membaca buku tebal bahasa inggris, Al-Qur’an, majalah, buku bekas dan lainnya. Termasuk yang paling menggembirakan adalah saya mulai bisa menggunakan kata-kata itu dalam pembicaraan saya. Suatu ketika atas pidato saya, pernah seorang wartawan dari London menelepon dan bertanya ‘dimanakah almamatermu?’ saya langsung menjawab “almamater saya adalah buku’”.
Begitu cintanya dia terhadap buku yang telah membentuk karakternya, dalam kesempatan yang lain Malcolm X berujar “My alma mater was books, a good library. Every time I catch a plane, I have with me a book I want to read – and that’s a lot of books these days. If I weren’t out here every day battling the white man, I could spend the rest of my life reading, just satisfying my curiosity – because you can’t hardy mention anything I’m not curious about”.
Sosok yang sangat kita kenal juga merupakan pembaca yang kuat, sang jenius penemu microsoft Bill Gates. Namun siapa sangka salah satu orang terkaya di dunia tersebut, sekaligus termasuk jajaran orang paling dermawan di dunia yang telah menyumbangkan hartanya sebesar 545 Triliun lebih, dahulunya anak yang bandel, hanya suka melawak ketika di sekolah dan tidak berprestasi. Singkat cerita, pandangan hidup dan kepribadiannya berubah setelah mengenal dan rajin membaca buku. Begitu besarnya pengaruh membaca dalam membantu Gates meraih cita-citanya seperti saat ini, sampai-sampai ia bersaksi dalam sebuah ungkapan "Saya punya banyak mimpi ketika kecil dan semua itu bisa terjadi karena saya punya kesempatan untuk banyak membaca (Buku)". Diawali dengan banyak membaca buku, pola pikir dan kepribadiannya berubah, lalu menjadi mahir membaca situasi, menyusun perusahaan Microsoft dan jadilah Bill Gates yang sekarang.
Dalam konteks lain, Kahlil Gibran berkata "Jika melihat ombak, jangan berlama-lama memikirkan ombaknya, namun pikirkanlah apa yang menyebabkan ombak itu bisa terjadi". Jika melihat orang yang hebat dari sisi knowledge, skill maupun attitude, lihatlah perjuangannya dan tirulah, mungkin itu pesan yang tersirat dari kalimat Gibran.
Setelah mengetahui begitu besarnya pengaruh literasi terhadap pembentukan karakter seseorang, lebih bijaksana jika kita menyelami lebih dalam secara teoritis apa itu literasi?. National institute for Litercy mendefinisikan literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat”. Sedangkan menurut UNESCO “Pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konsteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum tentang literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis - yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya”.
Dari dua pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa “Literasi merupakan kemampuan individu untuk membaca, menulis, berhitung guna memecahkan semua permasalahan dalam hidupnya”. Literasi juga menjadi kegiatan wajib bagi seluruh insan guna meningkatkan kualitas hidup, keterampilan dan juga untuk membentuk karakter. Adapun beberapa dari sekian banyak manfaat literasi antara lain:
1. Budaya literasi “Bernilai Ibadah”
Kegiatan membaca, menulis, diskusi dll, jika diniati untuk mencari ilmu pengetahuan akan menjadi kegiatan yang bernilai ibadah karena kita diperintahkan oleh Allah untuk mencari ilmu dari ayunan sampai liang lahat. Semua yang ada dalam ilmu pengetahuan itu kebajikan, sebagaimana disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Muadz Bin Jabal “Pelajarilah ilmu pengetahuan (membaca), karena belajar itu kebajikan, mencari ilmu itu ibadah, diskusi itu sama dengan bertasbih, membahas ilmu itu seperti jihad dan mengajarkan ilmu itu sedekah”.
2. Budaya literasi sebagai “problem solving skills”
Setiap individu pasti menginginkan kemudahan dalam menjalani kehidupan dan kemampuan dalam menyelesaikan setiap persoalan-persoalan yang dihadapi. Salah satu bekal untuk menyelesaikan semua persoalan hidup adalah ilmu pengetahuan yang cukup dan relevan. Sedangkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang cukup diperlukan kegiatan yang bernama “membaca”. Sebagaimana ayat Al-Qur’an yang pertama turun adalah Iqra’ (bacalah). Dari ayat itu kita disuruh untuk selalu belajar membaca apa saja yang ada di sekeliling kita, bisa membaca buku, membaca realitas sosial dan juga membaca fenomena alam.
3. Budaya literasi sebagai alat “character building”
Kegiatan membaca dan menulis juga berperan besar dalam membangun karakter manusia, karena perubahan tingkah laku manusia dimulai dari merubah pola pikir, sedangkan perubahan pola pikir dimulai dari membaca. Lalu bagaimana dengan orang yang rajin membaca, sudah mempunyai banyak ilmu pengetahuan namun tidak ada koherensi/keterpaduan dengan perilakunya? Berarti orang yang demikian itu adalah orang yang hanya “Hafal ilmu pengetahuan” tetapi tidak “Menguasai ilmu pengetahuan”. Wallahu A’lam
Blitar, 15 Juli 2020
Trimakasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Blitar, 15 Juli 2020
Trimakasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Mantab skali ustadz...
BalasHapusSyukron
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLangsung saya terima di anggota LPM pak😁
BalasHapusTrimakasih Suhuuu
HapusMantaaappp …sering-sering upload tulisan mawon pak Izzudin😁
BalasHapusNyuwun doane mas Calon Dosen
HapusTerimakasih ustadz... Mengingat kan pd kita penting nya membaca
BalasHapussami-sami..
HapusAlhamdulillah... Dapat ilmu .
BalasHapusmohon bimbingannya Suhuuu
HapusTrus kulo, jaluk bimbingan sinten mangke. ..
HapusJenengan sudah core of the core
Hapus