Buku Berkata “Menunggu Itu Sangat Menyenangkan”

Ahmad Izzuddin

Ungkapan yang sering kita dengar atau bahkan pernah kita alami adalah "Menunggu merupakan aktifitas yang membosankan". Saat menunggu seolah-olah waktu berjalan lambat atau bahkan terasa berhenti, satu menit terasa satu jam, satu jam terasa satu hari. Menunggu membuat harapan seperti tidak menentu dan hati terasa diombang-ambing, seperti menunggunya seorang lelaki terhadap jawaban atas lamaran yang sudah diutarakan kepada calon mertua. Jika tidak sabar menunggu kebanyakan orang akan berfikir jika saja waktu bisa dibeli, dia akan membelinya hanya untuk meng-cut waktu agar segera mendapat jawaban dan kejelasan serta terbebas dari belenggu menunggu.

Meskipun kebanyakan dari kita mengetahui jika mau sedikit sabar menunggu, mungkin akan lebih menyelamatkan kita karena ketidak sabaran seringkali membahayakan diri sendiri. Namun kebanyakan menganggap statemen ‘menunggu membosankan’ seperti menghipnotis dan kita jadikan  pembenaran dari ketidak sabaran kita. Banyak sekali contoh penyematan kata ‘membosankan’ dalam menunggu, misal kita bosan menunggu panggilan dari sekian banyak  lamaran pekerjaan yang  sudah dimasukkan ke perusahaan-perusahaan, bosan menunggu lampu merah yang tidak segera hijau, bosan menunggu panggilan saat antri di bank, bosan menunggu vaksin corona yang belum kunjung ditemukan sehingga ketika pemerintah mengatakan era new normal yang diingat masyarakat hanya kata ‘normal-nya’ saja lalu beraktifitas seperti biasa tanpa mematuhi protokol kesehatan, ada juga para suami yang bosan menunggu istrinya saat belanja karena terlalu banyak yang ingin dibeli  sedangkan modalnya pas-pasan sehingga harus selektif membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kebiasaan tidak sabar menunggu selain dialami oleh makhluk yang bernama manusia, juga dialami oleh makhluk Tuhan yang bernama binatang, sebagaimana yang sering kita lihat mereka tidak sabar menunggu makanan dari tuannya lalu berteriak-teriak ‘mbek.. mbek… mbek…’. Namun ada satu makhluk Tuhan di muka bumi ini yang begitu sabar dalam hal menunggu, dia adalah buku. Dari dulu hingga nanti, buku selalu sabar menunggu untuk di baca, ditelaah, dikaji dan didiskusikan.

Apa yang penulis alami merupakan kisah nyata, dari kelas dua Madrasah Aliyah penulis mulai suka mengoleksi buku, mulai buku fiksi berupa cerpen-novel sampai buku non fiksi, namun belum semua penulis baca. Antara buku yang penulis beli dan yang dibaca berbanding terbalik ‘lebih banyak yang dibeli’ padahal untuk membeli buku penulis seringkali harus menyisihkan uang jajan dan mengalahkan kebutuhan yang lain. Ada lebih dari 500 buku yang penulis punya dan belum ada 50% yang penulis khatamkan, meskipun begitu penulis masih mempunyai cita-cita yang terpendam untuk menambah minimal seribu buku lagi, namun ironisnya penulis masih saja enggan untuk segera menghatamkan  semuanya, semoga Allah memberi penulis hidayah untuk kembali ke jalan yang benar, hehe. Pun begitu, meski pemiliknya terkesan dhzalim dengan membiarkan buku teronggok di kardus dan almari, buku-buku tersebut tetap terlihat riang gembira senyumnya penuh cinta, tidak terlihat murung apalagi marah, bahkan buku-buku itu seakan berkata “aku akan sabar menunggumu membacaku sampai kapanpun”.

Pernah beberapa kali penulis membuka dan memandang serius ke arah buku yang terisolasi di dalam kardus sambil membersihkan yang berdebu, buku itu seakan-akan mendoakan supaya kelak pemiliknya diberi rizki yang cukup sehingga bisa membelikannya almari untuk tempatnya bersemayam. Begitu pula saat penulis memandang buku yang ada di rak buku dan mencoba menangkap apa yang buku sampaikan, saat penulis memandang segera komunitas buku di rak itu berjajar rapi memperkenalkan diri melalui punggungnya, buku pertama menyampaikan “saya bernama Islam karya Fazlur Rahman intelektual muslim dari Pakistan” bacalah aku agar kamu menjadi muslim yang kaffah. Buku kedua berkata “saya bernama Semesta Matsnawi-nya Jalaludin Rumi” bacalah aku agar lautan merasa malu kepadamu karena jiwamu terbentuk menjadi jiwa yang dalam hingga lebih dalam darinya, agar semesta ketika melihatmu juga malu karena jiwamu lebih luas darinya. Buku ketiga memperkenalkan diri “kalau saya Proses Kreatif Penulisan Akadamik yang ditulis oleh suhunya literasi Ustadz Ngainun Naim” bacalah aku agar kamu kreatif menulis, tulisanmu tidak kosong dan memiliki ruh. Buku selanjutnya berkata “saya Che Guefara, Revolusi Rakyat” bacalah aku agar engkau tahu bagaimana perjuanganku bersama rakyat Kuba meruntuhkan rezim diktator Batista dan siapa saja yang hatinya bergetar dengan geram melihat ketidakadilan maka anda adalah kawanku. Buku disampingnya menyahut “kalau aku The Wisdom Of Steve Jobs” agar kamu bijaksana seperti Steve Job. “Kalau aku  kumpulan karya-karya besar Kahlil Gibran” kata buku yang lain menimpali, sedangkan aku ditulis oleh pakar filsafat Ustadz Fahrudin Faiz judulku ‘Sebelum Filsafat’ aku sangat bermanfaat bagi para pemula yang ingin mempelajari filsafat. Aku Dialektika Langit Dan Bumi, aku Menjerat Gusdur, aku Islam Pluralis, aku Islam Nusantara, aku Fikih Sosial, aku Benang Tipis antara Halal dan Haram, semua buku-buku itu saling berebut pengaruh untuk dibaca, semua menunjukkan keindahannya, kedalaman isinya dan kebesaran manfaatnya.

Saat kita mulai mengambil satu buku lalu membuka beberapa halaman muka, buku itu dengan ramah memberikan denah melalui daftar isi, jika ingin membaca tentang sang nabi silahkan dibuka halaman 1, kalau sedang gundah gulana dan ingin mencari teman bukalah bab “Rahasia Hati” di halaman 413,  jika kamu sedang sedih karena patah hati dan membutuhkan teman agar merasa tidak sendiri bacalah ‘Sayap-Sayap Patah’ halaman 559 kata buku “Kumpulan Karya-Karya Besar Kahlil Gibran”. Jika ingin berguru kepada semar bacalah halaman 3, kalau ingin belajar hidup yang penuh kasih sayang bacalah Mozaik Ajaran kasih Isa A.S kata buku Manusia Langit. Semua buku merasa bahagia merasa kita perhatikan dengan memandangnya apalagi membacanya. Pun ketika buku itu hanya kita pandang dan tidak kita baca, buku-buku tersebut tetap menebar senyum yang ramah seakan-akan buku itu sudah bersyukur ditakdirkan menjadi kumpulan kertas yang berisi ilmu pengetahuan.


Itulah sekelumit kisah tentang buku dan surat cintanya kepada kita semua para pecinta buku. Ketika kita mengatakan satu cinta kepada buku, buku akan membalasnya dengan seribu bunga. Ketika kita mengatakan sayang kepada buku, buku akan membalasnya tanpa titik dan koma. Sehingga kita semua mendapat satu kalimat pesan yang bermakna dari buku yang teronggok di almari dan kardus “Menunggu Itu Sangat Menyenangkan”.

Trimakasih telah membaca, semoga ada guna dan manfaatnya
Jangan lupa tinggalkan komentar

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Istri Berharap Suami Menikah Lagi...

Kesempatan Emas Kuliah S2 (Lagi)